Tips Aman Berkendara Saat Pejalan Kaki Sedang Ramai

Tips Aman berkendara Saat Pejalan Kaki Sedang RamaiDibangunnya jalan raya merupakan tempat dilaluinya berbagai kendaraan baik roda empat, roda dua tapi juga sepeda, gerobak, bahkan pejalan kaki terkadang termasuk sebagai pengguna jalan. Mungkin dikota-kota besar memiliki jalur khusus untuk kendaraan non bermotor tersebut. Namun pada kenyataannya, tidak semua ruas jalan memiliki trotoar yang berfungsi semestinya. Karena kerap dipakai untuk berdagang, rusak parah, atau terhalang objek statis. Begitu pula jalur khusus untuk sepeda.

Parahnya infrastruktur jalan memaksa para pejalan kaki untuk berbagi jalan dengan pengendara bermotor. Belum lagi, jika ada pejalan kaki yang menyeberang jalan tidak pada tempatnya.

Di samping pejalan kaki dan pengguna sepeda, para pengendara bermo­tor wajib mewaspadai pengguna jalan lainnya. Seperti gerobak dan pedagang yang memakan badan jalan untuk berjualan. Pemandangan seperti ini acap kali terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta.

Sebagai pengguna mo­bil yang terbatas daya vi­sualnya, tentu harus ekstra waspada terhadap pergerakan objek-objek ini. Jangan sampai terjadi insiden, baik menabrak atau ditabrak.

Berdasarkan pasal 106 Ayat (2) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan: Setiap orang yang mengemudikan kendara­an bermotor di jalan wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda.

Lalu bagaimana jika kecelakaan tak bisa dihindarkan? Berdasarkan Pasal 284 UU itu, jika pengemudi tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau aturan Pasal 106 Ayat (2) di atas, ia dapat dipidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

“Apabila pengemudi sudah mengutamakan keselamatan pejalan kaki sesuai dengan Pasal 106 Ayat 2, namun karena kelalaian pejalan kaki menyebabkan terjadinya kecelakaan, semisal menyeberang di jalan bebas hambatan, maka pengemudi tidak dapat disalahkan,” urai Rosliana Ginting, SH, Director & Founder Real Driving Centre (RDC).

Memperkirakan pergerakan pejalan kaki memang hal yang sulit dilakukan. “Anda tidak akan mampu membaca apa yang ada di dalam pikiran pejalan kaki dan pejalan kaki tidak bisa mengerti kehendak Anda,” tegas Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Hal yang mungkin dilakukan ialah mengawasi kondisi sekitar sambil memperhatikan pergerakan pejalan kaki. Pejalan kaki, pesepeda atau pedagang di pinggir jalan bisa saja melakukan gerakan mendadak. Misalnya belok atau balik arah, bercanda, dan dorong-dorongan.

Sebabnya perhatikan pula kecepatan kendaraan, sebisa mungkin kurangi supaya pengemudi memiliki waktu untuk mengantisipasi.

Jika sempat, perhatikan pula spion kendaraan Anda. Selain bisa memvisualkan kondisi yang ada di belakang mobil, spion juga berguna sebagai patokan wilayah mobil sebelah kiri. Dengan spion, Anda bisa mempersiapkan ruang yang cukup ketika berpapasan dengan pejalan kaki atau pedagang.

Selain langkah-langkah itu, Anda bisa saja melakukan komunikasi dengan membunyikan klakson ketika pejalan kaki dirasa kurang waspada dengan keadaan jalan. Misalnya pejalan kaki ini mendengarkan musik lewat earphone atau main gadget. Bunyikan saja klakson secukupnya sebagai peringatan.

“Kalau memungkinkan, Anda bisa berhenti untuk memberi kesempatan pejalan kaki itu menyeberang jalan. Tapi jika tidak memungkinkan, kurangi kecepatan sambil siap-siap untuk menghindari ke ruang aman bila pejalan kaki itumenyeberang jalan tiba-tiba,” tegas Jusri. Perlakukan yang sama juga diterapkan untuk pedagang di area jalan.

Khusus saat menghadapi pesepeda, jangan buat gerakan yang mendadak ketika mengendarai mobil. Misalnya menurunkan kecepatan atau belok ke kiri atau kanan tiba-tiba. Sebab Anda tak tahu pengendara sepeda dari arah belakang waspada dengan pergerakan mobil Anda.