Tips Mengenali Perilaku Investor yang Berbahaya

Tips Mengenali Perilaku Investor yang BerbahayaSebagian dari anda pastinya sudah tahu dan mengenal yang dimaksud dengan investor? Investor adalah sebuah kelompok, individu baik domestik atau non domestik yang melakukan suatu investasi baik dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Seorang kepala penasehat Citi Indonesia dalam penelitian investasi bernama Meru Arumdalu memaparkan kepada anda semua untuk mengenali beberapa perilaku investor yang membahayakan karena perilaku investor yang demikian dapat menghambat upaya untuk mencapai hasil optimal dalam berinvestasi.

Perilaku pertama, menurut Meru, adalah keyakinan (beliefs) dimana investor melihat ada pola investasi yang berulang, maka secara alami investor akan berasumsi dan percaya pola tersebut akan terulang kembali.

Dengan perilaku ini, maka investor sering merulapakan proses pentingnya penggalian informasi tentang investasi dan membuat keputusan hanya berdasarkan keyakinan pola yang berulang tersebut.

“Ini membahayakan karena cenderung melihat pada situasi yang sama dan tidak ada pemahaman atas investasi. Perilaku ini tidak masuk akal, kombinasi antara keahlian dan keberuntungan maka perilaku ini sering dianggap wajar,” kata Meru dalam acara “Citi Financial Education Series 2013” di Jakarta.

Perilaku kedua adalah terlalu percaya diri (over confidence) terhadap suatu aset dengan kondisi pengetahuan yang terbatas. Investor cenderung memiliki rasa percaya diri tinggi padahal pengetahuan terbatas, hal ini akan menghambat profit investasi.

Perilaku ketiga adalah aksi jual beli berlebihan (over trading) akibat investor yang ingin memiliki kontrol penuh terhadap investasinya dengan cara perdagangan aktif.

“Perilaku ini membahayakan pasar modal karena psikologis investor yang terlalu yakin terhadap suatu aset maka akan over trading dan tidak sebanding dengan nilai asetnya,” kata Meru.

Perilaku terakhir adalah diversifikasi investasi yang menggampangkan investasi dengan rasio sederhana. Sebagai contoh, investasi untuk tiga jenis reksadana yang mengandung resiko berbeda dipukul rata.

“Setiap investasi memiliki risiko berbeda dan momentum ekonomi yang berbeda,” lanjut Meru.